Friday, November 16, 2012

Bersamamu Dalam Hujan

Setiap kali ada kamu di sekitarku, aku tak sengaja berharap hujan akan turun dengan sangat deras. Aku tak sengaja pelan-pelan merapalkan doa, diam-diam menunduk khusuk, hanya supaya takdir berkenan menurunkan hujan lebih lama dan lebih lama lagi.

Ketika bersamamu, aku ingin hujan selalu berebutan untuk turun, sebab aku tak tahu lagi dengan cara apa harus menahanmu agar tetap berada di sekitarku.

Jika aku meminta langsung padamu untuk menemaniku? Memangnya siapa aku? Maka kurasa itulah satu-satunya cara agar bisa memandangimu sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

Aku suka berbicara denganmu, sekadar menghabiskan hari menunggu hujan reda. Aku suka mendengar suaramu, menyimak semua ceritamu, bahkan sekadar memandangimu, meski diam-diam saja aku sudah cukup bahagia. 

Melihat senyummu yang menenangkan. Memperhatikan gurat wajahmu yang menyenangkan. Menyimpan rapat-rapat semua ekspresi dan kata-katamu di dalam hati juga pikiran.

Tak apa meski kamu lebih ingin berbicara dengan yang lain. Tak apa meski kamu seolah enggan berbicara panjang lebar bersamaku. Sudah kubilang, kan? Ada kamu di sekitarku saja, cukup. 

Bisa mendengar suaramu diiringi debaran jantungku yang seolah berpacu dengan rintik hujan yang semakin deras saja sudah lebih dari cukup.

Bersamamu dalam hujan, rasanya aku tak membutuhkan apa-apa lagi.


Tuesday, June 26, 2012

Ketika Aku Mencintaimu (2)

Saat pertama pertemuan itu, mata dan senyumanmu tak berarti apapun. Dengan suara renyah khas ditambah tutur kata lembutmu, bukan alasan bagiku untuk tersenyum. Namun semua mengalir begitu saja. Kita menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama, tanpa menyadari bahwa cinta datang perlahan dengan sembunyi-sembunyi untuk menyergap dibalik punggungku. Di balik canda tawa itu, benih cinta mulai tertanam menyusup tanpa ragu mengisi relung hatiku yang kosong.

Caramu menatap, caramu berbicara, caramu mengungkapkan pendapat, bahkan sampai caramu tertawa, telah terekam begitu tajam dalam ingatan, dan tak bisa kuhadapi lagi dengan santai. Aku begitu terhipnotis saat bibirmu melengkung tersenyum. Pembicaraan biasa pun menjadi pembicaraan yang begitu menyenangkan hati. Aku pun menjadi bertanya, mungkinkah kamu yang mengubah hari-hariku belakangan ini?

Namamu seketika menjadi selalu kuselipkan disetiap untaian doa yang kupanjatkan. Tanpa kusadari, aku menjadi begitu senang mengikuti berbagai keseharianmu. Bahkan dirimu beberapa kali hadir di dalam bunga tidurku, membuat mimpi menjadi begitu indah. Hari-hariku kini terisi oleh kehadiranmu, otakku pun tak mau berhenti untuk memikirkanmu, bahkan di hatiku ini mungkin akan tertulis namamu begitu besar dan nyata. Mungkin memang terlihat berlebihan, namun bukankah setiap insan yang jatuh hati merasakan hal yang seperti aku rasakan ini?

Kini setiap kali kita berbincang, aku menjadi ragu untuk menatapmu. Seketika tubuhku kaku, otakku tak bekerja, dan jantung bekerja lebih keras ketika melihat wajahmu. Entahlah apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sepertinya Tuhan telah menciptakan makhluk yang satu ini untuk membuatku seperti berada di dalam surga. Begitu indah walaupun kau belum pernah merasakan masuk ke dalamnya.

Ah sudahlah, mungkin memang sepertinya aku mencintaimu...




~untuk kamu, yang belum menyadari perasaanku.

Saturday, March 10, 2012

Cepatlah Pergi!



Teruntuk kamu, yang sekarang mengisi penuh hati ini.
Kapankah kamu mau meninggalkan rasa sesak di hati ini? Menjauh sana! Pergi! Aku sangat berharap kalau kamu tak kembali lagi!


Meski sebetulnya aku tahu, kamu tak akan bisa pergi dengan sendirinya. Kamu hanya bisa diusir dengan keberadaan rasa suka, dan dengan kembalinya rasa bahagia. Kalau para perasa itu datang, kamu pasti akan beranjak pergi dengan sendirinya. Bahkan tanpa perlu aku suruh.

Saat ini kamu masih mengisi ruang yang sudah sesak di hati ini. Kamu tak mau mengalah, membiarkan para perasa untuk datang dan mengusirmu. Aku jadi sebal. Dengan adanya kamu, pikiranku selalu terbawa ke masa lalu, mengingat-ingat cerita lama, yang ujung-ujungnya hanya akan membuat kamu semakin betah menyesakkan hati.

Ayolah, segeralah kamu lepaskan perekatmu! Aku tak ingin kamu ada lagi di sini. Aku ingin si suka dan si bahagia yang menggantikan kamu. Aku ingin mereka yang merekatkan jemari mereka di hati ini.

Kepada rasa sepi, kumohon sekali lagi. Cepatlah pergi!

Friday, February 17, 2012

Karena Aku Mencintaimu Tanpa Batas

Pada akhirnya, kita mengartikan cinta dengan cara masing-masing,
kemudian memilih pergi dengan bahagia masing-masing.
Jika pergiku bisa menerbitkan senyummu,
mungkin menghilangnya aku bisa membahagiakanmu.

Tidak perlu harus dimengerti perpisahan ini jika hanya menyakitkan hati.
Ternyata aku hanya bagian dari perjalananmu, bukan tujuanmu.
Mungkin sesalku, tak pernah mengembalikanmu.
Karena waktu tidak pernah mengerti kenapa aku masih menyimpan cinta ini.

Dulu luka dan sedihmu aku khawatirkan,
tapi sekarang menjagamu bukan tugasku lagi.

Coba saja kamu menjadi aku, betapa sulitnya meminta cinta darimu.
Kamu coba saja bunuh rinduku, karena aku masih punya sejuta rindu lagi untukmu.

Bilang sama Tuhanmu, aku tidak akan menyerah mencintaimu.
Di banyak hari setelah kamu, aku hanya perindu bodoh tanpa harapan.
Kalau aku nanti bilang "aku bahagia melihat kamu sama dia",
tolong jangan percaya, itu artinya aku masih cinta.

Yang aku sesalkan, kamu yang tak ingin diperjuangkan.
Yang aku takutkan, kamu menjadi yang akan sulit aku tinggalkan.

Terkadang cinta menjadi alat seseorang untuk menyakiti kita.
Aku, hanya salah satu bintang. Kamu, semesta yang kurindukan.

Ingin sekali membuatmu bahagia, tapi kamu tak pernah mengizinkannya.
Paling tidak aku pernah membuatmu bahagia,
meski pada akhirnya kamu memilih bahagia yang lainnya.

Aku yang selalu kurang di matamu ini,
sesungguhnya sangat berlebihan mencintaimu.

Aku dan kamu di dalam sesuatu yang entah apa namanya.
Tak perlu diingat. Tak perlu dilupakan.

Kelak kita sadar cinta akan menemukan arahnya, sepertinya kita sudah sepakat.
Hati bukanlah tempat bermain yang tepat.
Bagiku kamu adalah segalanya, bagimu aku hanya sekedarnya.

Membahagiakanmu sudah bukan lagi tugasku, tapi keinginanku.
Coba bunuh saja rindu-rinduku, aku sendiri menginginkannya mati.

Namun itu semua akan percuma.
Karena aku mencintaimu tanpa batas.

Wednesday, November 24, 2010

Ketika Aku mencintaimu


Dengan tak sering menghubungimu,
tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu.
Walau aku tak terbiasa,
Namun inilah cara terbaik mencintaimu.

Aku mencintaimu dari kejauhan,
Bukan karena aku membencimu,
Justru karena aku sangat mencintaimu,
Dan aku ingin menjagaku, juga menjagamu,
Menjaga tulusnya hatimu, juga menjaga kesucian hatiku.

Inilah caraku mencintaimu,
Dalam diamku,
Dalam ketulusanku,
Dalam cara yang dibenarkanNya,

Meski sulit,
Meski berat,
Namun ku tahu ini pilihan terbaik agar aku tak terlalu berharap.

Karena berharap hanya pantas pada Sang Pemberi Kehidupan,
Karena berharap hanya pantas digantungkan pada Sang Pengatur Detak Jantung,
PadaNya kuharap Dia akan menjagamu untukku,
PadaNya kutitipkan hatimu,

Biarlah ku hanya bisa menyapamu lewat senandung doa,
Agar untukmulah segala kebaikan,
Agar bersamamulah segala keindahan.



 ~untuk kamu yang selalu ada dalam pikiran, hati, dan setiap doa-doaku. :)

Saturday, January 30, 2010

Tunggu Aku. Maukah?

Hey, Kamu.

Aku melangkah dalam cemas menujumu, di malam yang terasa sepi dan dingin, saat waktu seolah mempersulit perjumpaan kita. Aku membawa hujan di sela-sela jemariku, menggenggamnya erat untuk kemudian kutebarkan agar kita dapat bercanda di bawah derasnya. Dibalut hangatnya jaket merah, saat itu, aku melihat langit senja membias di matamu, di balik kacamata, dan kutemukan keteduhan di sana. Juga kedamaian di setiap alunan suaramu. Aku suka.

Kita bercakap di antara pantulan kaca-kaca jendela. Bercerita berbagai hal. Berbincang dalam kenyamanan. Bertatap dalam setiap kata yang terucapkan. Ketika akhirnya secangkir coklat akan selalu membuatku teringat akan kamu.

Kamu boleh sebut aku sebagai lelaki di masa depan yang datang ke masa ini hanya untuk menjemputmu dan membawamu berjalan menyusuri waktu dan hari-hari yang akan dilalui. Membawakan senyum yang akan menghiasi bibirmu setiap waktunya. Berpetualang menuju tempat ternyaman bagi kita berdua. Aku percaya bahwa semesta telah merancang ini semua. Semesta berkonspirasi menghadirkan pertemuan kita.

Sekarang, di sini, di seberang lautan, hujan, turun teramat deras, seperti kerinduan yang pekat dan berjatuhan bebas. Seperti hati yang ingin kembali lagi dan tak akan pernah pergi. Di balik secangkir kopi hitam, ada harap yang tak henti digumamkan. Mungkin kah nanti kita akan dapat lebih banyak menghabiskan waktu berdua? Berbagi banyak hal yang akan membuat kita tersenyum dan tertawa? Mungkin saja kita dapat menghabiskan malam di bawah bintang, di antara embusan udara malam, di antara hangatnya jemari yang saling menggenggam.

Aku masih ingat kata-katamu di suatu siang ketika aku memintamu berhati-hati saat kita bertemu, “Dari buku yang Aku baca, kata hati-hati itu sama dengan selamat. Dan selamat itu kata yang berkonotasi baik. Berarti Aku akan selamat ketemu kamu..” Lalu, apakah kamu selamat setelah bertemu diriku? Dan ikut terjatuh juga, sama seperti yang aku rasa?

Tiga hari adalah waktu dibutuhkan untuk menuliskan kalimat-kalimat ini, menyelipkan kerinduan yang pekat, yang berdesakkan di antara setiap spasi, berserakan di setiap sisi hati yang mendekap. Jika kamu melihat derai hujan, damainya langit senja, sejuknya langit pagi, hijaunya pepohonan, percayalah bahwa ada aku yang sedang menatapmu dari langit di ujung sana. Meski di tempat yang berbeda, kita menatap langit yang sama.

Aku akan kembali. Tunggu saja. Dan kini kusertakan peluk hangat untukmu di balik setiap kata yang tertuju ini.

Pada suatu pagi, kita akan bertemu mata, bertatap muka, saling menggenggam, dan berbicara tentang apa saja hingga malam.


Hey, Kamu.
Tunggu aku. Maukah?